Iklan

5 Fakta Menarik di Balik Produksi Film Operasi Pesta Copet

ActaIndonesia.com, JAKARTA—Film Operasi Pesta Copet mulai tayang di bioskop Indonesia pada 27 Agustus 2026. Di balik cerita tentang sekelompok pencopet, film produksi Imajinari bersama Angin Segar dan Boss Creator ini menyimpan sejumlah fakta menarik dalam proses pembuatannya.

Salah satunya adalah keputusan tim produksi untuk melakukan pengambilan gambar di tengah kerumunan festival musik Pestapora yang disebut dihadiri sekitar 30 ribu penonton.

Berikut sejumlah fakta menarik di balik produksi Operasi Pesta Copet:

Syuting di tengah 30 ribu penonton Pestapora

Salah satu tantangan terbesar produksi film ini adalah ketika kamera harus bekerja di tengah kerumunan festival musik Pestapora.

Produser Dipa Andika mengatakan, tim tidak sekadar mendatangkan ratusan figuran untuk menciptakan suasana festival, melainkan benar-benar melakukan syuting ketika acara berlangsung.

“Bukan cuma penonton, tapi juga kru konser, security, dan band-band yang manggung. Jadi kami benar-benar syuting di konser, bukan sekadar 100-200 orang tapi ada 30 ribu orang di dalamnya,” ujar Dipa.

Sutradara Edy Khemod mengakui kondisi tersebut membuat proses produksi menjadi menantang. Tim harus bekerja dengan jumlah orang yang sangat besar, lokasi yang tidak steril, serta waktu pengambilan gambar yang terbatas.

Salah satu adegan yang turut menjadi bagian dari produksi tersebut adalah kemunculan Rhoma Irama. Menurut Khemod, sang Raja Dangdut bahkan mendedikasikan lagu “1001 Macam” untuk digunakan dalam film.

Melibatkan 500 figuran dan membangun panggung konser

Skala produksi Operasi Pesta Copet tidak hanya mengandalkan kerumunan nyata di Pestapora. Tim juga melibatkan sekitar 500 extras atau figuran untuk sejumlah adegan.

Para figuran tersebut digunakan dalam berbagai situasi, termasuk sebagai bagian dari kerumunan penonton festival hingga penonton konser musik metal.

Tim produksi juga membangun panggung khusus untuk keperluan pengambilan gambar konser metal serta beberapa bagian panggung yang tampil dalam film.

Produser Ernest Prakasa mengatakan pengalaman Edy Khemod dalam produksi panggung menjadi salah satu faktor yang membuat pekerjaan dengan skala besar tersebut dapat berjalan relatif lancar.

“Selama 11 tahun saya bikin film, selalu ngeri ketika ada yang bilang, ‘gampang itu mah’,” kata Ernest.

Menurutnya, kompleksitas produksi justru menjadi salah satu bagian yang menarik dari proses pembuatan film tersebut.

Kru hingga pemeran utama mendapat katering yang sama

Fakta menarik lainnya datang dari sisi keseharian kru di lokasi syuting. Imajinari menerapkan kebijakan katering yang sama untuk seluruh orang yang terlibat dalam produksi. Tidak hanya pemeran dan sutradara, kru dari berbagai departemen, extras, hingga pengemudi juga mendapatkan makanan yang sama.

Khemod mengatakan praktik tersebut menjadi pengalaman yang menurutnya cukup berbeda. “Katering enak itu jamak, di produksi iklan pun demikian. Tapi semua kru sampai driver makan yang sama dengan saya sebagai, itu terjadi di produksinya Imajinari,” ujarnya.

Kebijakan tersebut menjadi bagian lain dari cerita di balik layar yang tidak terlihat dalam film, tetapi menunjukkan bagaimana produksi berskala besar dikerjakan sebagai kerja kolektif.

Menggunakan gaya mockumentary dan spidercam yang digerakkan manual

Dari sisi visual, Khemod memilih pendekatan yang lebih mentah atau raw untuk menggambarkan kehidupan para karakter yang dekat dengan realitas masyarakat pinggiran kota.

Bersama sinematografer Dicky Maland, ia menggunakan pendekatan mockumentary, dengan kamera handheld, termasuk teknik punch-in zoom.

“Idenya adalah mockumentary, gambar-gambar seperti dalam dokumenter dengan kamera handheld, punch in zoom, agar penonton bisa ikut di dalamnya,” ujar Khemod.

Peralatan yang digunakan pun bukan tanpa tantangan. Dicky mengatakan salah satu lensa yang digunakan berukuran sangat besar.

Untuk menangkap adegan dengan skala lebih luas, tim juga menggunakan spidercam, kamera yang digantung dan lazim digunakan dalam siaran pertandingan olahraga. Namun, dalam produksi film ini, kamera tersebut digerakkan secara manual oleh kru.

Dua menit awal film sempat bocor

Sebelum film resmi tayang, Operasi Pesta Copet juga sempat menjadi perhatian karena munculnya potongan awal film berdurasi sekitar dua menit.

Potongan tersebut memperlihatkan karakter Ijal yang diperankan Iqbaal Ramadhan setelah tertangkap mencopet di Pestapora. Dalam adegan itu, Ijal diwawancarai jurnalis televisi dan mulai menceritakan alasan dirinya melakukan aksi pencopetan.

Kebocoran tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian perbincangan publik mengenai film, setelah sebelumnya poster bioskop Operasi Pesta Copet juga menjadi bahan pembicaraan warganet.

Terlepas dari berbagai cerita di balik produksinya, Operasi Pesta Copet membawa premis tentang aksi pencopetan, tetapi menurut tim pembuat film, cerita tersebut dikembangkan lebih jauh ke persoalan persahabatan serta latar sosial dan emosional para karakternya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *