
ActaIndonesia.com, JAKARTA — Supply Chain Indonesia menilai Jakarta membutuhkan hub logistik yang lebih dari sekadar tempat penyimpanan, dan mampu mempercepat distribusi sekaligus menjaga ketahanan pasokan.
Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, mengatakan bahwa kebutuhan hub logistik dipicu oleh pertumbuhan jumlah penduduk yang beraktivitas di Jakarta. Menurutnya, kondisi tersebut juga membuat kebutuhan barang dan jasa di ibu kota mengalami peningkatan.
Perkiraan jumlah penduduk di Jakarta dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), lanjutnya, sudah mencapai 10,68 juta jiwa hingga pertengahan 2025. Tidak hanya masyarakat Jakarta, ibu kota juga penuh dengan pekerja komuter dari berbagai wilayah penyangga.
“Permintaan aktual kota lebih besar karena Jakarta juga melayani pekerja komuter dari kawasan penyangga serta berbagai kegiatan bisnis, pemerintahan, perdagangan, hotel, restoran, dan layanan publik,” ujarnya kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Dia menuturkan, hub logistik yang ada di Jakarta harus lebih dari sekadar tempat penyimpanan. Menurutnya, hub tersebut perlu memiliki fasilitas konsolidasi barang, pengolahan pesanan, cross-docking, rantai dingin (cold chain), hingga distribusi cepat.

Fasilitas tersebut, ujarnya, dibutuhkan untuk mendukung pergerakan berbagai komoditas, mulai dari pangan dan barang konsumsi hingga produk industri, farmasi, serta kebutuhan perdagangan elektronik.
Jakarta Utara Dinilai Paling Strategis
Di antara berbagai wilayah di Jakarta, Jakarta Utara merupakan lokasi strategis untuk pengembangan hub logistik karena berada pada titik yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok, jaringan distribusi Jabodetabek dan nasional, serta pasar Jakarta.
Dia menuturkan, wilayah tersebut juga memiliki basis penduduk dan aktivitas ekonomi yang besar. Berdasarkan data sangat sementara BPS, jumlah penduduk Jakarta Utara mencapai sekitar 1,82 juta jiwa.
Sementara itu, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta Utara atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp713,97 triliun.
Dari angka tersebut, industri pengolahan memberikan kontribusi Rp207,88 triliun atau 29,12 persen. Sektor perdagangan menyumbang Rp136,78 triliun atau 19,16 persen, sedangkan transportasi dan pergudangan mencapai Rp41,89 triliun atau 5,87 persen.
Ketiga sektor yang memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan dan layanan logistik tersebut secara keseluruhan menyumbang 54,15 persen terhadap PDRB Jakarta Utara.
Kinerja sektor transportasi dan pergudangan juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Secara riil, sektor tersebut tumbuh 8,67 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jakarta Utara yang mencapai 4,92 persen.
Pertumbuhan itu dinilai menunjukkan semakin besarnya kebutuhan terhadap peningkatan kapasitas dan kualitas sistem logistik perkotaan.
Hub Logistik Tak Sekadar Gudang
Pada kesempatan yang sama, Rektor Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti Yuliantini mengatakan pengembangan hub logistik di Jakarta Utara perlu memperhatikan keterbatasan ruang dan tingginya harga lahan.
Menurutnya, fasilitas yang dikembangkan harus memiliki produktivitas lahan tinggi, mengingat Jakarta Utara juga menghadapi persoalan kemacetan serta risiko banjir dan rob.
Beberapa fasilitas yang dapat diprioritaskan antara lain urban consolidation center, cold-chain hub, fasilitas distribusi cepat, serta layanan logistik bernilai tambah yang terintegrasi secara digital.
Pengembangan fasilitas tersebut, kata Yuliantini, perlu didukung tata ruang yang sesuai, konektivitas multimoda, pengaturan angkutan barang, mitigasi risiko lingkungan, pemanfaatan teknologi, serta ketersediaan sumber daya manusia logistik yang kompeten.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri juga diperlukan agar pengembangan hub tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pasokan, mengurangi perjalanan kendaraan barang yang tidak efisien, serta meningkatkan kualitas layanan distribusi kepada masyarakat.
Yuliantini menambahkan, pemerintah perlu terlebih dahulu memetakan pola permintaan barang pada siang dan malam hari, asal dan tujuan pengiriman, waktu tempuh, biaya distribusi, kebutuhan pengguna, hingga calon investor.
Pengembangan hub juga perlu dilakukan secara bertahap dengan melibatkan pengguna utama sejak awal. Target utilisasi dan efisiensi harus ditetapkan secara terukur agar fasilitas yang dibangun tidak hanya layak secara komersial, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi sistem logistik Jakarta.





Iya bener banget nih…. Kacau nanti pergerakan paket.