BREAKING
● Presiden Prabowo Subianto dikabarkan Melakukan Perombakan Kabinet Besar-besaran ● Presiden Prabowo Subianto Berhentikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ● Presiden Prabowo Subianto Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Jakarta, 1 Oktober 2026 ● ASN Kementerian Ekonomi Kreatif Meninggal dalam Kegiatan Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) ● Seniman Prajna Dewantara ungkap Alami Pelecehan Seksual saat Ikut Diplomasi Kebudayaan di Bangkok, Thailand ● Hamzah Batik yang Berada di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, Terbakar ● Guruh Soekarno Putra Meninggal Dunia pada Usia 73 Tahun ● Presiden Prabowo Subianto dikabarkan Melakukan Perombakan Kabinet Besar-besaran ● Presiden Prabowo Subianto Berhentikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ● Presiden Prabowo Subianto Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Jakarta, 1 Oktober 2026 ● ASN Kementerian Ekonomi Kreatif Meninggal dalam Kegiatan Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) ● Seniman Prajna Dewantara ungkap Alami Pelecehan Seksual saat Ikut Diplomasi Kebudayaan di Bangkok, Thailand ● Hamzah Batik yang Berada di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, Terbakar ● Guruh Soekarno Putra Meninggal Dunia pada Usia 73 Tahun
Place Your Ad Here970 × 130 pxContact: redaksi@actaindonesia.com | WhatsApp: +62 85-11-77-87-987

BMKG Keluarkan Peringatan Hujan Sedang-Lebat di Sejumlah Wilayah Jabodetabek

ActaIndonesia.com, JAKARTA—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk sejumlah wilayah Jabodetabek pada 30 September hingga 2 Oktober 2026. Peringatan level waspada mencakup potensi hujan sedang hingga lebat.

Pada Rabu (30/9/2026), wilayah yang masuk peringatan dini hujan sedang hingga lebat meliputi Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Selatan, Kepulauan Seribu, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor.

Pada Kamis (1/10/2026), peringatan serupa berlaku di Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Selatan, Kepulauan Seribu, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok.

Sementara pada Jumat (2/10/2026), peringatan dini hujan sedang hingga lebat mencakup Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bogor.

BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini level siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat maupun level awas untuk hujan sangat lebat hingga ekstrem pada 30 September hingga 2 Oktober 2026.

Selain hujan, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini angin kencang. Pada 30 September, peringatan tersebut berlaku untuk Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok.

Pada 1 Oktober, peringatan angin kencang berlaku di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok. Sementara pada 2 Oktober tidak terdapat peringatan dini angin kencang.

BMKG menyebut potensi dampak pada level waspada berupa bencana hidrometeorologi seperti genangan, luapan air sungai, dan longsor yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.

Untuk level siaga, potensi dampaknya berupa banjir, banjir bandang, dan longsor yang dapat berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat, layanan publik, dan infrastruktur.

Sementara pada level awas, potensi dampak bencana hidrometeorologi dapat meluas berupa banjir, banjir bandang, dan longsor yang menyebabkan terhentinya layanan publik, kerusakan signifikan infrastruktur, serta berisiko terhadap keselamatan.

BMKG Prediksi Musim Hujan 2026-2027 Mundur di 529 Zona Musim

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026-2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia sekitar Indonesia yang berdampak pada berkurangnya curah hujan.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Faisal pada konferensi pers ‘Prediksi Musim Hujan’ di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Faisal menjelaskan, pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir Agustus 2026 tercatat sebesar +2,83. Sementara nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63 yang mengindikasikan El Nino sangat kuat.

Di Samudra Hindia, indeks IOD pada Agustus 2026 tercatat +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan awal musim hujan di Indonesia terjadi tidak bersamaan. Sebagian besar wilayah diprediksi baru mengawali musim hujan pada November 2026 dan Desember 2026.

“Sebagian besar wilayah baru akan mengawali musim hujan pada bulan November 2026 (185 ZOM/24,66% wilayah) dan Desember 2026 (266 ZOM/17,31% wilayah),” ujar Ardhasena.

Wilayah yang diprediksi mulai mengalami musim hujan pada November 2026 meliputi sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.

Sementara pada Desember 2026, musim hujan diprediksi mulai terjadi di sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.

Jika dibandingkan dengan rerata klimatologisnya, sebanyak 529 ZOM atau 61,08% luas daratan Indonesia mengalami musim hujan yang mundur. Sebanyak 11 ZOM atau 1,12% luas daratan Indonesia mengalami musim hujan lebih cepat, sedangkan 26 ZOM atau 2,15% luas daratan memasuki musim hujan sesuai dengan normalnya.

Meski diprediksi lebih singkat, musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM atau 69,76% luas daratan Indonesia. Sebanyak 147 ZOM atau 18,55% luas daratan Indonesia diprediksi memiliki sifat hujan lebih basah, sedangkan 42 ZOM atau 11,69% diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering.

Puncak musim hujan 2026/2027 juga diprediksi terjadi pada waktu yang berbeda di sejumlah wilayah. Sebanyak 155 ZOM atau 36,94% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026.

Sebanyak 162 ZOM atau 25,68% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027. Sementara 190 ZOM atau 16,79% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Februari 2027.

Wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026 meliputi sebagian besar Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian barat, sebagian kecil Papua Barat, Papua bagian utara, Papua Tengah bagian timur, dan Papua Selatan bagian barat.

Puncak musim hujan pada Januari 2027 diprediksi terjadi di Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, dan sebagian Pulau Papua.

Sementara puncak musim hujan pada Februari 2027 diprediksi terjadi di Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.

Ardhasena mengatakan durasi musim hujan 2026/2027 juga diprediksi lebih pendek dari normal di sebagian wilayah Indonesia.

“Jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim hujan 2026/2027 di wilayah Indonesia diprediksi lebih pendek dari normalnya pada 482 ZOM yang mencakup 51,90% luas daratan Indonesia, lebih panjang dari normalnya pada 60 ZOM yang mencakup 8,58% luas daratan Indonesia, dan sama dengan normalnya pada 40 ZOM yang mencakup 5,06% luas daratan Indonesia,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *