BREAKING
● Presiden Prabowo Subianto dikabarkan Melakukan Perombakan Kabinet Besar-besaran ● Presiden Prabowo Subianto Berhentikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ● Presiden Prabowo Subianto Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Jakarta, 1 Oktober 2026 ● ASN Kementerian Ekonomi Kreatif Meninggal dalam Kegiatan Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) ● Seniman Prajna Dewantara ungkap Alami Pelecehan Seksual saat Ikut Diplomasi Kebudayaan di Bangkok, Thailand ● Hamzah Batik yang Berada di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, Terbakar ● Guruh Soekarno Putra Meninggal Dunia pada Usia 73 Tahun ● Presiden Prabowo Subianto dikabarkan Melakukan Perombakan Kabinet Besar-besaran ● Presiden Prabowo Subianto Berhentikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ● Presiden Prabowo Subianto Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Jakarta, 1 Oktober 2026 ● ASN Kementerian Ekonomi Kreatif Meninggal dalam Kegiatan Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) ● Seniman Prajna Dewantara ungkap Alami Pelecehan Seksual saat Ikut Diplomasi Kebudayaan di Bangkok, Thailand ● Hamzah Batik yang Berada di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, Terbakar ● Guruh Soekarno Putra Meninggal Dunia pada Usia 73 Tahun
Place Your Ad Here970 × 130 pxContact: redaksi@actaindonesia.com | WhatsApp: +62 85-11-77-87-987

Pendapatan Naik, Garuda Indonesia Masih Rugi US$113,0 Juta Pada Semester 1 2026

ActaIndonesia.com, JAKARTA—PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) masih mencatat rugi bersih US$113,0 juta pada Semester I 2026, meski angka tersebut turun 23,2% dari US$147,1 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pada saat yang sama, beban avtur Garuda meningkat 43,6% menjadi US$677,6 juta.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Garuda mencatat pendapatan US$1,8 miliar sepanjang Januari–Juni 2026, naik 16,0% secara tahunan dari US$1,5 miliar. Perseroan juga mencatat laba operasional positif dengan EBIT US$74,0 juta dan EBITDA US$431,6 juta.

“Di saat lonjakan harga avtur menekan maskapai di berbagai belahan dunia, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) justru bergerak mendekati zona laba. Meski beban avtur membengkak 43,6% menjadi US$677,6 juta pada Semester I 2026, Perseroan tetap membukukan laba operasional positif dan memangkas rugi bersih 23,2%,” demikian pernyataan Manajemen Garuda Indonesia dalam siaran pers, Jumat (2/10/2026).

Tekanan biaya bahan bakar paling terasa pada kuartal II 2026, ketika beban avtur meningkat 90% secara tahunan. Porsi bahan bakar terhadap pendapatan juga naik menjadi sekitar 37,7% dari 30,5%.

Di sisi pendapatan, pertumbuhan tertinggi berasal dari segmen penerbangan tidak berjadwal yang meningkat 32,5% menjadi US$272,8 juta. Angkutan haji menjadi pendorong utama dengan kontribusi US$232,2 juta, naik 51,6%.

Hingga Juni 2026, armada operasional Garuda mencapai 104 pesawat. Dari sisi neraca, perseroan mencatat defisiensi modal US$52,15 juta per 30 Juni 2026, menyusut dibandingkan US$1,5 miliar pada Semester I 2025. Kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 tercatat US$624,3 juta.

Garuda juga menyiapkan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III dengan menerbitkan maksimal 124,35 miliar saham baru. Jumlah tersebut masih merupakan perkiraan dan rencana tersebut memerlukan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 6 November 2026 serta pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dalam skema tersebut, PT Danantara Asset Management (DAM) selaku pemegang saham utama akan menebus HMETD yang menjadi haknya dengan menyetorkan saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) senilai Rp5.664.912.000.000 sebagai setoran modal selain uang.

Saham GMFI yang menjadi objek inbreng saat ini masih dimiliki PT Angkasa Pura Indonesia (API). Saham tersebut akan dialihkan lebih dulu kepada InJourney, kemudian kepada DAM melalui pembagian dividen non-tunai atau dividend in specie. Setelah peralihan efektif, saham tersebut akan digunakan untuk memperkuat permodalan Garuda.

Rencana aksi korporasi tersebut disampaikan Garuda melalui keterbukaan informasi di BEI pada Rabu (30/9/2026). Perseroan menyatakan transaksi dilakukan berdasarkan prinsip kewajaran (arm’s length) dan mengacu pada POJK Nomor 42 Tahun 2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan.

Sementara itu, GMFI mencatat pendapatan US$270,29 juta pada Semester I 2026, naik 51% secara tahunan. EBITDA tumbuh 39% menjadi US$34,82 juta, sedangkan laba yang diatribusikan kepada entitas induk mencapai US$10,81 juta atau setara Rp193,55 miliar, naik 23,46%.

Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi menjelaskan, kinerja tersebut ditopang tingginya pendapatan berbasis Time Material Basis dari grup Garuda maupun pelanggan non-grup, terutama proyek reaktivasi pesawat dan pekerjaan mesin untuk perusahaan penyewaan pesawat.

Per 30 Juni 2026, ekuitas GMFI tercatat US$144,62 juta, berbalik dari defisiensi modal US$248,99 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan siaran pers Garuda Indonesia, Analis Bahana Sekuritas Yogi Satrio Bagus dalam risetnya memperkirakan harga pelaksanaan rights issue berada di Rp50 per saham, dengan diskon 12,3% dari harga cum-date Rp57. Bahana memperkirakan pemegang saham publik dapat menyetor dana tunai hingga sekitar Rp496 miliar jika seluruhnya menebus haknya.

Dengan penyerapan penuh, defisiensi ekuitas Garuda diproyeksikan menyempit ke kisaran minus US$24 juta sebelum memperhitungkan kinerja Semester II 2026.

Dalam keterbukaan informasinya, Garuda memperkirakan PMHMETD III akan berdampak positif terhadap kondisi keuangan Perseroan. Manajemen juga menyatakan optimistis tren pemulihan berlanjut hingga akhir 2026 melalui penguatan penerbangan berjadwal dan disiplin efisiensi biaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *