BREAKING
● Presiden Prabowo Subianto dikabarkan Melakukan Perombakan Kabinet Besar-besaran ● Presiden Prabowo Subianto Berhentikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ● Presiden Prabowo Subianto Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Jakarta, 1 Oktober 2026 ● ASN Kementerian Ekonomi Kreatif Meninggal dalam Kegiatan Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) ● Seniman Prajna Dewantara ungkap Alami Pelecehan Seksual saat Ikut Diplomasi Kebudayaan di Bangkok, Thailand ● Hamzah Batik yang Berada di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, Terbakar ● Guruh Soekarno Putra Meninggal Dunia pada Usia 73 Tahun ● Presiden Prabowo Subianto dikabarkan Melakukan Perombakan Kabinet Besar-besaran ● Presiden Prabowo Subianto Berhentikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ● Presiden Prabowo Subianto Pimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Jakarta, 1 Oktober 2026 ● ASN Kementerian Ekonomi Kreatif Meninggal dalam Kegiatan Latihan Dasar Militer Komponen Cadangan (Latsarmil Komcad) ● Seniman Prajna Dewantara ungkap Alami Pelecehan Seksual saat Ikut Diplomasi Kebudayaan di Bangkok, Thailand ● Hamzah Batik yang Berada di Kawasan Malioboro, Yogyakarta, Terbakar ● Guruh Soekarno Putra Meninggal Dunia pada Usia 73 Tahun
Place Your Ad Here970 × 130 pxContact: redaksi@actaindonesia.com | WhatsApp: +62 85-11-77-87-987

6 Tip Liburan Sekolah Bagi Orang Tua dengan Anak Neurodivergent

ActaIndonesia.com, JAKARTA—Jika banyak keluarga menantikan libur sekolah semester genap untuk bersantai dan berkumpul, tidak dengan orang tua yang memiliki anak neurodivergent. Momen yang kerap ditunggu-tunggu ini justru bisa menjadi periode yang penuh tantangan.

Bukan tanpa alasan, libur sekolah berarti berkurangnya struktur, lebih banyak waktu yang tidak terencana, dan paparan lingkungan baru. Kondisi ini menjadi persoalan nyata lantaran anak autistic rentan merasa cemas saat ada perubahan rutinitas.

Sementara itu, anak dengan ADHD cenderung mengalami kesulitan untuk mengatur perhatian, energi, dan impulsivitas tanpa jadwal sehari-hari yang kerap diberikan oleh sekolah berupa rutinitas.

Ries Sansani, Occupational Therapist dan Lead Coach di Atelier of Minds, mengungkapkan bahwa sebuah student care inklusif berbasis pendekatan terapeutik memandang fenomena tersebut sebagai momen krusial, yang justru bisa menjadi peluang tumbuh sang anak jika orang tua memiliki bekal yang tepat.

“Libur sekolah bukan musuh anak neurodivergent. Yang menjadi tantangan adalah ketidaksiapan transisi,” katanya.

Dia menuturkan, saat orang tua tahu cara menciptakan struktur yang fleksibel dan lingkungan yang aman secara sensorik, liburan bisa menjadi waktu yang benar-benar bermakna untuk perkembangan anak.

Berikut 6 tip praktis untuk orang tua:

Buat “Kalender Visual” Liburan Sejak Sekarang

Jangan tunggu hingga hari-H. Sebelum hari pertama libur tiba, orang tua dapat mengajak anak duduk bersama dan buat kalender visual yang menampilkan gambaran aktivitas setiap harinya.

Orang tua bisa menggunakan gambar, stiker, atau warna-warna berbeda untuk setiap jenis kegiatan. Langkah orang tua menjaga rutinitas selama liburan dapat mengurangi stres karena jadwal yang familiar membantu menurunkan kecemasan dan mencegah meltdown.

Selain itu, kegiatan membuat jadwal visual dengan warna, stiker, atau emoji dapat menjadikan perencanaan terasa menyenangkan, sambil tetap menyertakan aktivitas rutin di samping rencana khusus liburan.

Dia menuturkan, visualisasi jadwal bukan sekadar alat bantu. Ini adalah bahasa keamanan bagi otak anak neurodivergent. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi, otak tidak perlu bekerja keras untuk waspada. Dengan begitu, energi bisa dialihkan untuk belajar dan bermain.

Pertahankan Tiga Jangkar Rutinitas: Waktu Bangun, Makan, dan Tidur

Di tengah fleksibilitas liburan, orang tua harus menjaga 3 hal agar tetap konsisten setiap harinya, yakni  waktu bangun, makan, dan tidur – bahkan saat bepergian sekalipun. Dengan begitu, orang tua dapat menjaga kestabilan anak neurodivergent selama masa liburan.

Siapkan “Peta” Sebelum Setiap Aktivitas Baru

Sebelum mengajak anak ke tempat yang belum pernah dikunjungi, orang tua perlu memberikan gambaran visual atau verbal tentang apa yang akan terjadi di tempat tersebut.

Berikan pemberitahuan awal tentang perubahan yang akan terjadi. Orang tua bisa memberitahukan bahwa anak akan pergi ke rumah Tante setelah makan siang. Setelah itu, jelaskan akan ada siapa dan apa di tempat tersebut.

Selain itu, ajak anak untuk membicarakan hal-hal yang mungkin bisa membantu dirinya untuk merasa nyaman. Prediktabilitas mengurangi kecemasan dan membantu otak fokus pada adaptasi, bukan pada reaksi.

Ciptakan “Sudut Tenang” di Rumah

Idealnya, rumah dengan anak neurodivergent di dalamnya memiliki satu sudut yang dirancang khusus sebagai zona pemulihan sensorik. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai tempat perlindungan yang aman baginya.

Riset menunjukkan bahwa anak neurodivergent mendapat manfaat dari istirahat sensorik dan emosional selama aktivitas liburan. Ciptakan zona tenang di rumah dengan selimut berbobot (weighted blanket), pencahayaan lembut, dan noise-cancelling headphone sebagai bagian dari perlengkapan sehari-hari.

Prioritaskan Aktivitas Berbasis Gerak dan Eksplorasi Sensorik

Jangan isi liburan hanya dengan layar. Berdasarkan meta-analisis terhadap 24 studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terapi okupasi, terapi integrasi sensori terbukti efektif terhadap anak-anak dengan cerebral palsy, gangguan spektrum autisme, ADHD, gangguan perkembangan, dan disabilitas intelektual.

Aktivitas sederhana seperti bermain tanah liat, memasak bersama, berenang, atau berkebun bisa menjadi terapi sensori alami yang menyenangkan selama liburan. Orang tua perlu memastikan untuk membiarkan anak yang memimpin, dan ikuti ritme mereka.

Pertimbangkan Program Pendampingan Inklusif Terstruktur

Liburan panjang tidak harus berarti kehilangan momentum perkembangan yang sudah dibangun selama semester. Mendaftarkan anak ke program student care atau pengayaan inklusif yang dirancang khusus untuk anak neurodivergent bisa menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak. Anak akan mendapatkan struktur dan stimulasi yang tepat, sementara orang tua mendapatkan ketenangan pikiran.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *