Ketika Tubuh Mulai Berbicara

Sabtu, 13 Juni 2026. Pukul 07.45. Seorang perawat mendorong kursi roda memasuki ruang rawat inap tempat saya dirawat. Beberapa menit sebelumnya, saya sudah diminta berganti pakaian dengan baju operasi berwarna hijau. “Ibu, sekarang waktunya. Silakan duduk di kursi roda ini. Dokter dan tim sudah menunggu di cathlab.” Saya mengangguk pelan. Meski sudah mengetahui prosedur yang akan dijalani, tetap saja ada rasa cemas yang sulit disembunyikan.

Pagi itu saya akan menjalani kateterisasi jantung disertai angiografi koroner, yaitu prosedur untuk melihat kondisi pembuluh darah koroner dan mengetahui apakah terdapat penyempitan. Jika penyempitannya cukup berat, dokter dapat langsung memasang stent agar aliran darah kembali lancar.

Perjalanan menuju ruang tindakan membuat saya teringat beberapa bulan sebelumnya, ketika tubuh mulai memberikan tanda-tanda yang sayangnya sempat saya anggap biasa.

Saya sering merasa cepat lelah meskipun hanya mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan. Berjalan agak jauh membuat napas mudah terengah-engah. Naik turun tangga terasa semakin berat. Sesekali muncul nyeri di satu titik pada dada sebelah kiri, lalu hilang. Kadang rasa nyeri itu berpindah ke punggung kiri, tepat di dekat tulang belikat. Sesekali napas juga terasa sedikit sesak.

Semua keluhan itu saya anggap sebagai bagian dari bertambahnya usia. Sampai suatu pagi, saya dan suami mengajak cucu berkeliling kompleks menggunakan mobil. Mobil melaju pelan, tanpa aktivitas yang menguras tenaga. Namun tiba-tiba jantung saya berdebar sangat kencang. Tubuh terasa lemas, wajah dipenuhi keringat dingin, dan saya merasa tidak nyaman.

Sejak saat itu saya memutuskan untuk memeriksakan diri ke puskesmas. Dokter memeriksa saya sambil mendengarkan bunyi jantung menggunakan stetoskop dan menanyakan berbagai keluhan yang saya rasakan.

“Bu, saya curiga ada masalah dengan jantung Ibu,” kata dokter.

Kemudian, saya diminta menjalani pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Hasilnya menunjukkan adanya kelainan yang mengarah pada gangguan pada jantung. Dokter pun memberikan surat rujukan agar saya menjalani pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit.

Keesokan harinya saya langsung datang ke poli jantung.

Di sana saya menjalani pemeriksaan ulang, termasuk EKG dan ekokardiografi atau USG jantung. Dokter menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan dan gejala yang saya alami, ada dugaan saya mengalami penyakit jantung koroner. Kabar itu tentu membuat saya terkejut. Berbagai pikiran sempat bermunculan, tetapi saya berusaha menenangkan diri dan percaya bahwa semuanya masih bisa ditangani.

Syukurlah, hasil ekokardiografi menunjukkan fungsi pompa jantung saya masih baik. Lalu, dokter memberi gambaran sederhana yang mudah saya pahami. Ibarat sebuah pompa air, mesin pompanya masih bekerja dengan baik, tetapi salurannya diduga mulai mengalami penyempitan. Karena itulah pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan.

Saya mulai menjalani pengobatan sekaligus kontrol rutin setiap bulan. Setiap kunjungan, dokter mengevaluasi perkembangan kondisi saya dan melakukan pemeriksaan laboratorium sesuai kebutuhan, seperti kadar kolesterol, gula darah, serta fungsi ginjal.

Beberapa waktu kemudian saya menjalani treadmill test. Selama pemeriksaan, aktivitas listrik jantung dipantau ketika saya berjalan di atas treadmill. Hasil pemeriksaan tersebut semakin menguatkan dugaan adanya penyakit jantung koroner sehingga dokter merujuk saya ke rumah sakit provinsi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Di rumah sakit provinsi, saya kembali menjalani serangkaian pemeriksaan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Setelah mempertimbangkan seluruh hasil pemeriksaan, dokter memutuskan bahwa saya perlu menjalani kateterisasi jantung disertai angiografi koroner untuk memastikan kondisi pembuluh darah saya. Karena kondisi saya tidak termasuk gawat darurat, tindakan dijadwalkan beberapa waktu kemudian.

Akhirnya tibalah hari itu.

Ruang cathlab terasa sangat dingin. Dokter, perawat, dan seluruh tim medis sudah bersiap mengenakan pakaian operasi lengkap dengan masker dan penutup kepala. Sebelum tindakan dimulai, kami berdoa bersama.

Alhamdulillah, prosedur berjalan lancar.

Kateter dimasukkan melalui pembuluh darah di pergelangan tangan kanan. Dari hasil angiografi diketahui terdapat penyempitan sekitar 30 persen di salah satu pembuluh darah koroner saya. Karena tingkat penyempitannya belum memerlukan tindakan pemasangan stent, dokter memutuskan pengobatan dan perubahan gaya hidup merupakan terapi terbaik untuk saat ini.

Saya menjalani rawat inap selama dua malam. Malam pertama digunakan sebagai persiapan tindakan, sedangkan setelah prosedur selesai saya menjalani observasi sebelum akhirnya diperbolehkan pulang dengan membawa obat-obatan dan jadwal kontrol.

Sejak saat itu saya berusaha lebih disiplin menjalani pengobatan, menjaga pola hidup, dan mematuhi semua jadwal kontrol yang diberikan dokter. Anak saya pun selalu mengingatkan waktu minum obat. Bahkan, terkadang ia menelepon lewat video call hanya untuk memastikan mamanya tidak lupa minum obat.

Hal lain yang membuat saya sangat bersyukur adalah seluruh proses pemeriksaan hingga tindakan kateterisasi ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Mulai dari pemeriksaan di puskesmas, rujukan ke rumah sakit, berbagai pemeriksaan penunjang, hingga tindakan di cathlab, saya tidak mengeluarkan biaya. Pengalaman menggunakan BPJS Kesehatan akan saya ceritakan lebih lengkap pada lain kesempatan.

Dari semua yang saya alami, saya belajar satu hal yang sangat berharga: jangan pernah mengabaikan sinyal yang diberikan tubuh. Rasa lelah yang tidak biasa, mudah sesak, nyeri dada, atau keluhan lain yang terus berulang mungkin terlihat sepele. Namun, bisa jadi itulah cara tubuh memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Memeriksakan diri sejak dini dapat membuat penyakit terdeteksi lebih cepat sehingga penanganannya pun menjadi lebih baik. Saya bersyukur mendengarkan apa yang disampaikan tubuh saya. Semoga pengalaman ini dapat menjadi pengingat bagi siapa pun untuk melakukan hal yang sama.

Penulis: Juhariyah

One thought on “Ketika Tubuh Mulai Berbicara”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *