
ActaIndonesia.com, WASHINGTON—Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada 3,75%–4% di tengah inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih berada di atas sasaran 2%. Keputusan tersebut diambil Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dalam rapat kebijakan pada 28 Oktober 2026.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan, keputusan tersebut diambil untuk mendukung mandat ganda bank sentral, yakni mencapai stabilitas harga dan mendukung kondisi ketenagakerjaan. Menurut dia, aktivitas ekonomi AS tumbuh dengan laju yang kuat, tetapi inflasi masih tinggi.
“Namun, inflasi masih tinggi. Komite meyakini bahwa pengumpulan lebih banyak informasi akan membantu menentukan arah kebijakan yang tepat untuk memastikan inflasi kembali ke sasaran 2% secara tepat waktu. Komite akan mewujudkan stabilitas harga,” kata Warsh dalam konferensi pers pada Rabu, 28 Oktober 2026, waktu setempat.
Warsh mengatakan, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada paruh pertama 2026 direvisi naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,8% menjadi 2,4%. Pertumbuhan pada kuartal III juga diperkirakan lebih cepat, didorong belanja konsumen yang sehat dengan laju pertumbuhan kemungkinan di atas 3% serta investasi bisnis yang diperkirakan meningkat pada laju sekitar dua digit.
Belanja modal mencapai porsi yang secara historis tinggi terhadap PDB. Warsh menyebut investasi teknologi tinggi sebagai pendorong utama percepatan tersebut, sementara peningkatan juga terjadi pada kategori investasi lainnya.

Dari sisi ketenagakerjaan, Warsh mengatakan tingkat pengangguran lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya. Pertumbuhan jumlah pekerja dalam daftar gaji juga berada di atas laju tahun lalu. Sementara itu, rata-rata bergerak empat minggu klaim tunjangan pengangguran berada pada level terendah dalam beberapa generasi.
“Dengan demikian, dari sisi ketenagakerjaan dalam mandat ganda Federal Reserve, kondisinya cukup positif,” ujarnya.
Meski demikian, Warsh mengatakan masyarakat AS masih menghadapi inflasi yang berada di atas sasaran FOMC selama hampir enam tahun. Karena itu, pembahasan FOMC dalam beberapa hari terakhir terutama berfokus pada stabilitas harga.
Menurut Warsh, sejak keputusan kebijakan pada September 2026, The Fed mulai melihat perubahan dalam kondisi keuangan dan kredit. Kondisi tersebut mengetat bagi sebagian pelaku usaha dan rumah tangga, sedangkan pelaku pasar mulai lebih selektif dalam mengalokasikan modal.
Warsh mengatakan kondisi keuangan secara keseluruhan memang lebih ketat, tetapi dia belum menyebutnya sebagai kondisi yang ketat. Secara umum, perkembangan tersebut dinilai mengarah pada periode pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga yang lebih panjang serta berkelanjutan.
Dia juga menyebut harga energi dan komoditas terkait kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Menurut dia, The Fed perlu memastikan perubahan harga relatif di sejumlah sektor tidak meluas ke seluruh perekonomian dan ekspektasi inflasi tetap tertambat dengan baik.
Warsh menyatakan, informasi ekonomi yang diterima dalam periode mendatang akan membantu FOMC menentukan arah kebijakan selanjutnya. Dia menegaskan bahwa tugas bank sentral adalah memastikan kebijakan moneter ditetapkan secara tepat.
Selain itu, The Fed akan mengubah jadwal rapat FOMC mulai musim gugur 2027. Warsh mengatakan, bank sentral menilai delapan rapat per tahun merupakan jumlah yang tepat.
Pada 2027, satu rapat akan dikhususkan untuk membahas strategi kebijakan moneter secara menyeluruh, tanpa rencana pemungutan suara mengenai suku bunga dana federal maupun penerbitan pernyataan kebijakan. Rapat lainnya akan tetap menjadi rapat rutin untuk menetapkan kebijakan.
Warsh memperkirakan, pada 2028 akan ada dua rapat yang dikhususkan untuk pembahasan strategi dan enam rapat untuk penetapan kebijakan.
Menurut dia, perubahan jadwal tersebut bertujuan menyediakan waktu bagi para pembuat kebijakan untuk membahas strategi, mempertimbangkan kembali pertanyaan-pertanyaan besar, dan melihat perkembangan ekonomi dalam cakrawala waktu yang lebih panjang.


