
ActaIndonesia.com, DENPASAR — Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama Asosiasi Game Indonesia (AGI) menggelar Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) Business & Conference 2026 untuk membuka peluang investasi, membangun kemitraan bisnis, dan memperluas akses pasar internasional bagi pengembang gim Indonesia.
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kemkomdigi Sonny Hendra Sudaryana mengatakan, IGDX menjadi titik temu bagi pelaku industri gim untuk membangun kolaborasi lintas sektor, berbagi pengetahuan, serta membuka peluang pengembangan bisnis di pasar yang lebih luas.
“IGDX telah menjadi titik temu bagi industri Gim Indonesia, tempat teknologi, kreativitas, bisnis, dan budaya bertemu. Gim tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan cerita, mengekspresikan jati diri kita, dan menciptakan peluang ekonomi,” ujar Sonny dalam pembukaan IGDX 2026 di Bali Beach Convention, Sanur, Bali, beberapa waktu lalu.
Melalui pertemuan bisnis, konferensi, demonstrasi produk, dan pameran, Kemkomdigi ingin mempertemukan studio gim Indonesia dengan pelaku industri internasional. Kegiatan tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama konkret dalam penerbitan, investasi, distribusi, dan pengembangan gim bersama.
“Kami ingin setiap studio Gim di Indonesia memiliki jalur pertumbuhan yang jelas, sementara mitra internasional dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai talenta dan potensi yang dimiliki Indonesia,” kata Sonny.

IGDX 2026 yang menjadi bagian dari Bali Tech Week 2026 mempertemukan 339 studio gim dan 66 publisher dari 31 negara. Kegiatan tersebut didukung sembilan mitra acara. Sebanyak 543 pemegang Business Pass mengikuti penjajakan peluang kerja sama bisnis, sementara 1.037 pemegang Public Pass turut berpartisipasi.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kemkomdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, industri gim perlu memiliki kemampuan untuk berinovasi dan bertransformasi menghadapi perubahan teknologi.
“Dalam menghadapi disrupsi ini, resiliensi adalah kapasitas untuk berinovasi, bertransformasi, dan tumbuh di tengah ketidakpastian. Kita ingin pelaku industri Gim Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan global, tetapi juga pencipta, inovator, dan pemain yang diperhitungkan di panggung dunia,” ujarnya.
Tema IGDX 2026, “Building A Thriving Ecosystem with Creative Resilience”, berkaitan dengan perubahan lanskap teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan, teknologi imersif, dan pergeseran ekspektasi pasar yang menuntut pelaku industri untuk terus beradaptasi.
IGDX sendiri telah diselenggarakan sejak 2019 melalui program Bootcamp, Accelerator, Career, Business, dan Conference. Program-program tersebut mencakup pengembangan kompetensi talenta, persiapan karier, serta pertemuan dengan investor, publisher, distributor, dan mitra industri.
Kemkomdigi juga menghubungkan talenta, startup, perguruan tinggi, industri, investor, dan pasar melalui ekosistem pengembangan ekonomi digital. Salah satunya melalui Garuda Spark, yang telah mencakup 178 program, menjangkau lebih dari 15.700 talenta digital, membina 80 startup, dan melibatkan 80 mitra. Investasi langsung yang tercatat mencapai lebih dari Rp429,5 miliar.
Laporan e-Conomy SEA 2025 memperkirakan nilai transaksi bruto (gross merchandise value/GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai US$99 miliar pada 2025, tumbuh 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Presiden Asosiasi Game Indonesia Shafiq Husein mengajak peserta menjadikan IGDX sebagai ruang untuk membangun kemitraan dan memperkuat industri gim nasional.
“Di tengah berbagai tantangan, kehadiran kita hari ini menunjukkan bahwa kita tetap percaya pada masa depan industri Gim Indonesia. Dibutuhkan kreativitas, keberanian, kesabaran, dan resiliensi untuk terus membangun industri ini. Mari bersama-sama memperkuat ekosistem Gim Indonesia agar semakin kompetitif dan mampu membawa karya serta talenta Indonesia ke pasar global,” tuturnya.


