Antara Pedagang Jujur dan Oknum yang Memanfaatkan Kepercayaan

Siang ini, saya membaca status WhatsApp seorang keponakan yang sedang merintis bisnis kuliner. Dia bercerita bahwa pesanan konsumennya sudah dijemput oleh seorang oknum kurir. Namun, di tengah perjalanan, pesanan itu tiba-tiba dibatalkan. Sang kurir menghilang, begitu pula makanan yang seharusnya diantarkan kepada konsumen.

Cerita tersebut mengingatkan saya pada beberapa kejadian nyeleneh yang pernah saya alami sendiri.

Suatu siang, ketika rasa kantuk sedang hebat-hebatnya, seorang bapak yang tidak saya kenal, usianya sudah cukup tua, memanggil-manggil sambil mengucapkan salam di depan rumah.

Dengan sedikit malas, saya keluar rumah.

“Iya, Pak?”

“Ini, Bu. Saya dari kampung sebelah. Habis panen nangka, istri saya ribut saja. Disuruh bawa ke kompleks biar pada merasakan,” katanya sambil menyodorkan sepotong nangka matang.

“Oh, terima kasih, Pak,” jawab saya sambil menerima nangka itu dengan senang hati. Dalam hati, saya berpikir, baik sekali tetangga dari kampung sebelah ini.

Namun, kekaguman saya seketika memudar ketika si bapak melanjutkan,

“Lima belas ribu, Bu.”

“Oh, Bapak jualan?”

Akhirnya, nangka itu terpaksa saya bayar. Padahal, kalau sejak awal dia mengatakan sedang menawarkan dagangan, saya mungkin tidak akan membelinya karena memang sedang tidak ingin makan nangka.

Saya pernah menjadi penjahit rumahan sekaligus berjualan pulsa. Suatu hari, seorang pelanggan yang merupakan tetangga baru dari RT sebelah datang ke rumah.

Orangnya ramah dan banyak bercerita. Dia mengatakan bahwa di kampung halamannya memiliki kolam ikan dan penggilingan padi. Dia juga bercerita akan pulang kampung selama satu minggu. Saya hanya mendengarkan sambil terus mengerjakan jahitan yang sedang ditunggunya.

Seminggu kemudian, ibu itu datang lagi dengan menenteng kantong plastik berisi beras kira-kira satu liter.

“Ini beras dapat menggiling sendiri,” katanya sambil memberikan kantong plastik tersebut kepada saya.

Setelah saya menerimanya, dia menyodorkan uang Rp5.000.

“Beli pulsa Rp10.000. Itu beras satu liter Rp7.000 saja, enggak apa-apa,” katanya.

Memang, saya menjual pulsa Rp10.000 seharga Rp12.000.

Kecele juga saya. Geer, dikira mendapat oleh-oleh. Hahaha.

Sebenarnya, dari dua kejadian tersebut, saya tidak merasa dirugikan. Mungkin hanya cara penyampaiannya yang kurang tepat sehingga menimbulkan perasaan kurang nyaman.

Namun, ada kejadian lain yang berbeda.

Suatu hari, dua orang pemuda tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu ruang tamu yang memang terbuka. Maklum, sebagai penjahit rumahan, pintu yang terbuka menjadi tanda bahwa saya siap menerima pelanggan yang ingin menjahitkan pakaian.

Kedua pemuda itu mengaku sebagai petugas Pertamina. Mereka bercerita tentang ledakan tabung gas sambil memperlihatkan kliping koran yang sudah dijilid rapi. Isinya berita tentang ledakan tabung gas di berbagai daerah.

Entah benar atau tidak isi kliping tersebut, saya malas membacanya. Mereka mengatakan ingin melakukan survei keamanan tabung gas.

Saya berpikir, mana mungkin petugas Pertamina melakukan survei tabung gas dari rumah ke rumah? Karena itu, saya menolak.

Namun, kedua pemuda tersebut terus berusaha memaksa masuk ke dapur. Saya tetap bersikeras menolak hingga terjadi sedikit perdebatan.

Tiba-tiba, dari depan rumah muncul seorang bapak tetangga. Mungkin dia mendengar keributan antara saya dan kedua pemuda tersebut.

Dengan suara agak keras, dia berkata, “Teriakin maling saja, Bu, biar mereka digebukin orang sekampung.”

Mendengar perkataan itu, kedua pemuda tersebut langsung pergi tanpa permisi.

Keesokan harinya, seorang ibu bercerita kepada saya bahwa dia baru saja membeli regulator gas baru dari petugas Pertamina. Menurut ceritanya, sehari sebelumnya regulator di rumahnya diperiksa dan dinyatakan tidak aman. Bahkan, sempat terjadi semburan api sehingga dia takut rumahnya mengalami kebakaran.

Belakangan diketahui, orang yang mengaku sebagai petugas Pertamina tersebut adalah dua pemuda yang sama dengan yang datang ke rumah saya. Mereka ternyata pedagang regulator tabung gas.

Modusnya, mereka seolah-olah melakukan pemeriksaan keamanan tabung gas. Salah seorang dari mereka membocorkan sedikit gas dari tabung, sementara yang lain menyulutnya menggunakan korek api gas yang dibawa. Akibatnya, muncullah semburan api yang membuat penghuni rumah panik.

Dalam kondisi panik, tetangga saya itu akhirnya menuruti perkataan mereka dan membeli regulator yang ditawarkan. Regulator tersebut diklaim sangat aman, padahal sebenarnya merupakan regulator biasa yang dijual dengan harga jauh lebih tinggi, bahkan berkali-kali lipat.

Mereka memanfaatkan ketidaktahuan dan kepanikan seorang ibu rumah tangga untuk menjual barang dagangannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan bertemu dengan orang-orang baik dan jujur, termasuk para pedagang yang menawarkan dagangannya dengan cara baik. Namun, kita juga bisa bertemu dengan orang-orang yang memanfaatkan kepercayaan, ketidaktahuan, bahkan kepanikan orang lain demi keuntungan pribadi.

Kita perlu bijak dalam menyikapinya. Tidak semua orang yang datang menawarkan sesuatu memiliki niat yang sama. Ada yang benar-benar ingin berdagang, tetapi ada pula yang menggunakan cara-cara yang tidak semestinya.

Penulis: Juhariyah, ibu rumah tangga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *