
ActaIndonesia.com, JAKARTA—Harga emas dunia diperkirakan masih berpotensi mengalami koreksi pada perdagangan pekan depan. Harga logam mulia tersebut bergerak dalam rentang US$3.737 hingga US$4.003 per troy ounce.
Pengamat Ekonomi, Pasar Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa harga emas dunia pada penutupan perdagangan Sabtu pagi berada di level US$3.876 per troy ounce.
Jika kembali terkoreksi pada Senin, 2 November 2026, harga diperkirakan turun ke US$3.818 per troy ounce. Dalam skenario penguatan, harga berpeluang mencapai US$3.951 per troy ounce pada Senin dan US$4.003 per troy ounce pada akhir pekan.
“Jadi diperkirakan dalam minggu depan perdagangan untuk emas dunia itu di US$3.737 per troy ounce sampai US$4.003 per troy ounce,” kata Ibrahim kepada wartawan pada Minggu, 1 November 2026.
Untuk harga logam mulia di dalam negeri, Ibrahim memperkirakan pergerakan pada pekan depan berada di kisaran Rp2,39 juta hingga Rp2,61 juta per gram. Harga pada penutupan Sabtu tercatat Rp2,526 juta per gram.

Dia memperkirakan, harga dapat turun Rp20.000 menjadi Rp2,506 juta per gram apabila melemah pada Senin. Sebaliknya, jika menguat, harga berpeluang naik Rp20.000 menjadi Rp2,546 juta per gram. Dalam skenario penguatan selama sepekan, harga logam mulia diperkirakan mencapai Rp2,61 juta per gram.
Ibrahim juga menyampaikan proyeksi sejumlah indikator pasar keuangan dan komoditas untuk pekan depan. Indeks dolar Amerika Seerikat diperkirakan bergerak pada rentang 101,20–103,20, sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan berada di kisaran US$98,20–US$108,30 per barel.
Adapun nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp18.000–Rp18.320. Ibrahim menyebut sejumlah data ekonomi Indonesia yang akan dirilis pada awal November menjadi perhatian pasar, antara lain neraca perdagangan, inflasi, PMI manufaktur, cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, serta neraca transaksi berjalan kuartal III 2026.
Ketegangan Geopolitik dan Suku Bunga AS
Ibrahim menyebut ketegangan geopolitik sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan indeks dolar, minyak WTI, rupiah, dan harga emas. Dia menyoroti perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran serta situasi di Selat Hormuz.
Menurut dia, ketegangan di Timur Tengah berpotensi kembali meningkat. Dia juga menyinggung konflik Rusia-Ukraina serta ketegangan di Semenanjung Korea sebagai perkembangan geopolitik yang perlu diperhatikan pasar.
Selain geopolitik, Ibrahim menyoroti kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve. Menurut dia, kenaikan inflasi dan harga energi di Amerika Serikat dapat memengaruhi keputusan suku bunga pada November atau Desember 2026.
Dia menyebut terdapat perkiraan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun. Ekspektasi tersebut, lanjutnya, berpotensi mendorong penguatan indeks dolar AS, sementara rupiah dapat mengalami tekanan dan harga emas dunia terkoreksi.
Ibrahim menjelaskan, apabila harga minyak terus meningkat, biaya energi dan bahan bakar di Amerika Serikat juga berpotensi naik. Kondisi tersebut dapat berdampak pada harga bahan pangan dan inflasi.
Dalam situasi suku bunga yang lebih tinggi, dia menilai investor berpotensi mengalihkan dana dari emas ke dolar AS maupun instrumen obligasi.
Di dalam negeri, Ibrahim turut menyoroti dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap anggaran negara. Menurut dia, kenaikan harga energi dapat menambah tekanan terhadap APBN. Karena itu, perkembangan harga minyak menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah.


