
ActaIndonesia.com, JAKARTA—RANS Carnival tetap berupaya menyelenggarakan acara di sejumlah kota meski menghadapi boikot yang membuat sejumlah musisi dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mundur dari kegiatan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, penyelenggara menyatakan akan mengupayakan agar RANS Carnival tetap berlangsung dengan konsep yang lebih sederhana, dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi saat ini.
“Dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi saat ini, kami terus mengupayakan agar RANS Carnival dapat tetap diselenggarakan dengan konsep yang lebih sederhana, dengan tetap melibatkan pekerja seni, pelaku UMKM, dan komunitas kreatif setempat,” demikian pernyataan resmi RANS Carnival yang dikutip pada Senin, 2 November 2026.
Penyelenggara menyebut RANS Carnival sejak awal hadir dengan tujuan memberikan hiburan gratis kepada masyarakat. Acara tersebut juga dimaksudkan untuk membuka ruang bagi musisi, kreator, dan pelaku UMKM agar dapat terlibat.
Selama ini, RANS Carnival menjadi wadah kolaborasi dengan berbagai pihak. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada musisi dan kreator untuk menampilkan karya mereka, sekaligus menyediakan ruang bagi pelaku UMKM untuk berjualan dan memperkenalkan produk kepada masyarakat.

Menurut penyelenggara, kolaborasi tersebut dijalankan secara profesional dan diharapkan memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat.
Penyelenggara juga mengakui adanya perhatian dan kekhawatiran masyarakat terkait situasi yang berkembang belakangan ini.
“Kami memahami perhatian dan kekhawatiran yang muncul terkait situasi belakangan ini. Situasi yang terjadi tentunya merupakan hal yang tidak pernah kami harapkan,” tulis penyelenggara.
RANS Carnival berharap kegiatan tersebut tetap dapat menjadi hiburan yang dinikmati masyarakat sekaligus memberikan kesempatan bagi pekerja seni, pelaku UMKM, dan komunitas kreatif untuk tumbuh dan berkarya bersama.
Untuk diketahui, gerakan boikot terhadap RANS Carnival muncul setelah Raffi Ahmad menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada 29 Oktober 2026.
Kehadiran Raffi dalam kegiatan tersebut menuai kritik karena acara itu dipersoalkan sejumlah pihak dan dituding sebagai tandingan aksi mahasiswa yang sehari sebelumnya menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Aksi boikot kian kencang ketika para mahasiswa yang ikut dalam aksi tersebut mengaku bukan dari universitas yang diwakili dan menerima bayaran untuk ikut dalam kegiatan tersebut dengan menggunakan almamater perguruan tinggi tertentu.
Raffi pun mengeluarkan pernyataan klarifikasi melalui akun media sosial. Dia menegaskan hadir dalam kegiatan tersebut hanya sebagai undangan dan tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara.
Dia mengatakan baru menerima informasi mengenai undangan tersebut pada malam sebelum acara berlangsung.
“Saya hadir dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda kemarin sebagai undangan yang informasinya baru saya terima pada malam sebelum acara. Saya tidak terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan acara, serta tidak mengetahui detail susunan acara dan pihak-pihak yang hadir,” katanya.
Dia juga membantah tuduhan yang menyebut dirinya mengatur kemunculan salah satu merek dalam kegiatan tersebut.
Menurut Raffi, gapura dan pembatas jalan yang menampilkan merek tersebut sudah berdiri jauh sebelum acara berlangsung. Karena itu, dia menegaskan keberadaan fasilitas tersebut tidak berkaitan dengan kehadirannya dalam kegiatan deklarasi Sumpah Pemuda.
Raffi juga menyatakan menghormati mahasiswa yang menyampaikan aspirasi pada 28 Oktober 2026. Dia menilai penyampaian pendapat merupakan hak dan suara mahasiswa memiliki arti penting.
“Saya menghormati teman-teman yang menyampaikan aspirasi pada 28 Oktober 2026. Menyampaikan pendapat adalah hak, dan suara mahasiswa itu penting,” ujarnya.
Lebih lanjut, Raffi menyatakan terbuka terhadap kritik dan masukan. Namun, dia meminta kritik disampaikan berdasarkan fakta, bukan tuduhan atau fitnah yang bersumber dari dugaan yang tidak benar, terutama jika menyangkut keluarganya.
Dia juga mengajak masyarakat memastikan kebenaran informasi sebelum menarik kesimpulan atau menyebarkannya.
“Mari memastikan kebenaran informasi sebelum menyimpulkan atau menyebarkannya,” kata Raffi.


