
Frasa Vox Populi Vox Dei (Suara Rakyat Sabda Ilahi) dengan plesetan teranyarnya Vox Bocil Vox Dei (Suara Anak Kecil Sabda Ilahi) beberapa kali menghardik memori penulis, saat sejumlah kesaksian, komentar maupun unggahan di media sosial unik yang viral.
Komentar dan unggahan video pendek itu adalah komentar ‘bocil’, yakni sebutan populer untuk anak kecil. Ia dengan berani di sejumlah media sosial mengomentari pidato resmi kenegaraan seorang Presiden.
Singkatnya, anak kecil—entah diminta orang tuanya atau keluarga terdekatnya—sepertinya merasa kehilangan teladan kata-kata yang sejuk dan mendidik, bukan kata-kata yang enteng dilontarkan di ruang publik, bahkan saat pidato resmi kepresidenan, seperti kata ndasmu (Jawa kasar: kepalamu) yang diulang-ulang.
Tak hanya anak kecil, sejumlah perwakilan mahasiswa, seperti sosok Fatima Az-zahra, wakil BEM Universitas Indonesia serta tokoh-tokoh nasional lain, dalam tayangan diskusi publik bahkan di depan juru bicara Istana di TV, Fatima serta tokoh lain memprotes keras.
Fatima menyatakan bahwa bagaimana seorang kepala negara menyampaikan pidato dengan kata-kata kasar dan tak wajar, cenderung meremehkan pihak-pihak yang mengkritik program-program kebijakan negara dengan kata-kata tak pantas.

Balik kepada netizen yang kreatif, tentu membuka pikiran kreatif menembus batas-batas, apalagi juga untuk memelesetkan pun beriktikad menyindir kondisi meresahkan negeri. Frasa sakral berdimensi politik itu tentang Suara Rakyat sejatinya Suara Semesta (Tuhan) dalam imajinasi penulis digubah menjadi Vox Bocil Vox Dei saja.
Frasa yang diambil dari gejolak politik di negara Inggris sekitar 1688 sampai abad ke-18 kemudian menghadirkan Tratat Whig; yang sebelumnya memunculkan Glorious Revolution, yakni Revolusi Agung penggulingan Raja James II tanpa berdarah-darah.
Kerajaan Inggris mendadak menjadi Monarki Konstitusional yakni simbol kuasa Raja sudah usai dengan pembatasan kekuasaan lewat konstitusi tertentu dengan kuasa Parlemen, yang mandat Raja tidak lagi absolut, dengan menggantinya menjadi negara Demokrasi di Inggris sampai sekarang.
Demokrasi hakikatnya tuntunan
Esensi demokrasi sejatinya adalah suara-suara yang harus didengarkan dari mereka yang memiliki hak kewarganegaraan menghadapi kekuasaan pengelolaan negara.
Demokrasi menuntut “raja” dengan huruf R tak lagi dengan huruf kapital mau mendengarkan ketimpangan, gangguan-gangguan penyelewengan anggaran sebuah negara, mau untuk pimpinan tertinggi negeri turun dan bersepakat program-program kebijakan di antara mereka yang merasa tertindas ada yang melenceng dari lapangan kehidupan riil.
Pemimpin negara, entah “raja”, Presiden, Perdana Menteri sekalipun juga seorang Emir dan Sultan di era Demokrasi modern wajib turun dan meraba denyut nadi wong cilik. Orang-orang kalah yang separuh hidupnya menggantungkan pada kekayaan alami yang tersia-sia di sebuah negeri, terpasung oleh kekuatan besar oligarki yang mengatur ekonomi dan sosial hajat hidup ratusan juta jiwa dan janji-janji tak terselesaikan selama pilihan kepemimpinan nasional semenjak lebih dari dua dekade membuat tanya itu mengeras dan mengental.
Teladan pemimpin, sungguh hari-hari ini dibutuhkan yang memberi tuntunan bukan gestur tubuh dan paras serta ekspresi ledekan dan pidato-pidato ejekan yang absurd.
Pemimpin di depan memberi tuntunan dan harapan, menuruni anak tangga kekuasaan dengan kepercayaan diri menyentuh dan merangkul secara setara bersama bekerja dan membangun, juga memahami persoalan serta ia di belakang memotivasi dengan memberi dayung optimisme untuk melihat visi jauh ke depan, memberi kekuatan dan daya hidup bagi warganya.
Ki Hajar Dewantara dan seluruh totalitas dia sebagai pendidik, apakah benar-benar sudah basi dan tak bisa dipetik model tuntunan kepemimpinan seperti sering ia ajarkan? Kekuasaan semata sebagai penuntun, yang memberi cahaya ajaran-ajaran baik tentang budi pekerti, yang hakikatnya memimpin adalah sebagai guru bagi bangsa; tidak lagi absolut “titahnya” bagi segelintir pengikut dan demi politik kepentingan-kepentingan lima tahunan.
Demokrasi adalah tuntunan, sesuatu yang sakral bagi pemimpin bangsa membawa suara jutaan pemilihnya dulu menghadap cakrawala dengan paras sumringah dan bergetar energi hidup.
Sembari memberi kesempatan mereka yang tak bersetuju menyampaikan dengan mata batin terbuka untuk berani berefleksi dan mengoreksi arah yang mungkin keliru dituju.
Sungguh saat anak kecil, seorang bocil menyampaikan komentar merasa tak punya teladan di negeri ini, mengeja benar kata-kata kasar sang Presiden di pidato resmi, Vox Bocil Vox Dei sungguh suara Tuhan yang dibisikkan di dasar keresahan kita bersama sebagai sesama warga.
Penulis: Bambang Asrini, pemerhati sosial dan budaya



