Kadin: Konflik Timur Tengah Tunjukan Pasar Energi Global sangat Rentan

ActaIndonesia.com, JAKARTA—Kamar Dagang Industri (Kadin) menilai ketahanan energi menjadi salah satu agenda utama global. Konflik di Timur Tengah yang terjadi mengingatkan semua pihak bahwa pasar energi global sangat rentan.

Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, mengatakan bahwa kerentanan tersebut tercermin dari harga minyak dunia pada saat ini. Menurutnya, harga minyak dunia mengalami peningkatan dari US$65 per barel menjadi US$110 per barel.

“Dan situasi di Selat Hormuz membatasi pergerakan kapal tanker di salah satu titik penting dalam jalur energi dunia,” katanya di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi masalah serius bagi Indonesia. Bukan tanpa alasan, pada saat ini, konsumsi bahan bakar Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Dari total itu, 600.000 barel berasal dari produksi dalam negeri.

Sementara itu, 1 juta barel lainnya didatangkan dari luar negeri. Ketergantungan tersebut, ujarnya, membuat Indonesia rentan ketika harga minyak dunia mengalami gejolak.

Meskipun begitu, dia menilai bahwa Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat ketahanan energi dalam menghadapi tantangan yang ada. Menurutnya, Indonesia dapat mempercepat program elektrifikasi, meningkatkan energi terbaru, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

“Presiden Prabowo telah menegaskan bahwa penguatan kemandirian energi harus menjadi inti dari respons Indonesia terhadap ketidakpastian global saat ini,” ujarnya.

Dia menuturkan, Kadin memiliki keyakinan bahwa arahan Presiden mengenai Indonesia Incorporated, yakni pemerintah dan dunia usaha bekerja sama, merupakan jalan yang harus ditempuh.

Pada saat ini, ujarnya, Kadin menghubungkan prioritas nasional dan dunia usaha Indonesia dengan ekonomi global, multilateral, serta ekonomi bilateral utama melalui Kadin Global Engagement Office yang telah dibentuk.

“Itulah sebabnya kami meyakini bahwa gagasan yang kredibel, kemampuan yang lebih kuat, dan peluang konkret harus dipertemukan dalam sebuah forum seperti ini,” katanya.

Dia menambahkan, Kadin melihat bahwa kemitraan semakin kuat dan peluang pasar baru semakin besar sepanjang kunjungan Presiden ke luar negeri, melalui 50 kunjungan kepresidenan, 46 forum bisnis dan pertemuan meja bundar, serta penandatanganan 35 nota kesepahaman.

Kadin Indonesia, ujarnya, juga menempatkan dunia usaha Indonesia di posisi terdepan untuk turut membentuk masa depan ekonomi global melalui berbagai keterlibatan, mulai dari Inggris, World Economic Forum, Jepang, Prancis, Korea Selatan, Thailand, ASEAN, hingga APEC.

Dia menambahkan, Kadin juga melihat bahwa investasi dalam transisi energi global terus meningkat meskipun terdapat ketegangan geopolitik.

Investasi global dalam transisi energi pada 2025, lanjutnya, mencapai rekor US$2,3 triliun. Sementara itu, belanja global untuk transportasi listrik juga mencapai hampir US$900 juta pada 2025, meningkat dari US$741 miliar.

Di Indonesia, ujarnya, penyerapan penjualan dalam satu tahun terakhir hampir berlipat ganda di Indonesia, sehingga menciptakan urgensi sekaligus peluang.

“Ketika saya berdiri di sini tahun lalu, kita membahas peluang net zero Indonesia senilai US$3,8 triliun hingga 2050 serta kebutuhan akan kepemimpinan sektor swasta di bidang iklim, modal, karbon, dan keterampilan,” ujarnya.

Kadin, ujarnya, benar-benar terus mendorong agenda iklim ini. Pertama, Kadin memiliki agenda net zero Kadin yang jumlah anggotanya bertambah dari 70 menjadi 100 perusahaan pada 2026.

Dalam hal karbon, ASEAN Alliance on Carbon Markets dan Carbon Knowledge Hub, dia mengeklaim, juga semakin berperan di tingkat global — termasuk di ASEAN, APEC, dan G20.

Dalam hal alam, lanjutnya, Generative Forest Business Hub bergerak dari tahap konsep menuju implementasi, dengan mendukung tiga proyek percontohan bisnis kehutanan pada 2026.

Dalam hal keterampilan, Indonesian Jobs and Skills Accelerator menemukan bahwa 23 dari 34 perusahaan telah melihat transisi hijau sebagai prioritas dalam waktu dekat, dengan lebih dari 80 persen di antaranya juga menyediakan pelatihan berbasis kerja.

Dalam hal modal, Kadin dan Bluebird Net meluncurkan Indonesian Transition Factbook pada 2025.

“Mulai dari Swiss melalui World Economic Forum, Inggris melalui London Climate Action Week, hingga Amerika Serikat melalui New York Climate Week di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kadin dan pemerintah terus bergerak maju untuk memastikan bahwa hal-hal tersebut juga kami bawa pulang dan memberikan dampak bagi dunia,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *