Harga Emas Dapat Tembus Rp2,78 Juta per Gram Pada Pekan Depan

ActaIndonesia.com, JAKARTA—Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga logam mulia masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam beberapa waktu ke depan.

Menurutnya, harga emas batangan yang saat ini berada di level Rp2.670.000 per gram berpotensi naik hingga Rp2.780.000 per gram apabila tren kenaikan harga emas dunia berlanjut.

Dalam analisis pasar yang disampaikan pada Minggu, 5 Juli 2026, Ibrahim mengatakan harga emas dunia ditutup di level US$4.174 per troy ounce. Apabila menguat, harga emas diperkirakan mampu menembus resistance pertama di US$4.248 per troy ounce dan resistance kedua di US$4.348 per troy ounce.

“Pergerakan tersebut diperkirakan akan mendorong harga logam mulia di dalam negeri naik ke kisaran Rp2.690.000 hingga Rp2.780.000 per gram,” katanya, Minggu, 5 Juli 2026.

Sebaliknya, apabila terjadi koreksi, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia memiliki support pertama di level US$4.100 per troy ounce dengan harga logam mulia sekitar Rp2.650.000 per gram.

Jika tekanan berlanjut, harga emas dunia berpotensi turun ke US$4.000 per troy ounce, sementara harga logam mulia diperkirakan berada di kisaran Rp2.550.000 per gram.

Selain emas, Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah dunia justru masih akan bergerak melemah. Menurutnya, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) memiliki level support di US$64,70 per barel dan resistance di US$72,10 per barel sepanjang pekan depan.

“Ada kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan terus terkoreksi di bawah US$70, bahkan mendekati US$64 per barel,” katanya.

Dia juga memperkirakan, indeks dolar Amerika Serikat akan bergerak pada kisaran support 100,00 dan resistance 102,00.

Menurut Ibrahim, terdapat 3 faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan pasar pekan depan, yakni perkembangan geopolitik, kebijakan bank sentral Amerika Serikat, serta keseimbangan pasokan dan permintaan komoditas global.

Dari sisi geopolitik, dia menilai situasi di Timur Tengah mulai membaik setelah adanya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali normal sehingga pasokan minyak mentah meningkat.

Pasar, kata dia, kini menunggu pertemuan lanjutan antara pejabat Amerika Serikat dan Iran yang akan membahas Selat Hormuz serta kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran. Jika kesepakatan kedua negara berlanjut menjadi gencatan senjata permanen, pasokan minyak dunia diperkirakan semakin melimpah.

“Saat ini terjadi oversupply sehingga harga minyak mentah terus mengalami penurunan yang cukup signifikan,” ujarnya.

Di sisi lain, konflik Rusia dan Ukraina masih menjadi sumber ketidakpastian global. Ibrahim menilai bahwa serangan Rusia ke ibu kota Ukraina yang masih berlangsung membuat peluang tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai tetap menopang permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

Selain faktor geopolitik, Ibrahim juga menyoroti arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Menurutnya, melambatnya inflasi yang didukung penurunan harga minyak dapat membuka ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *