Harga Minyak Dunia Berpotensi di Atas US$100 per Barel pada Pekan Depan

ActaIndonesia.com, JAKARTA—Pengamat memperkirakan harga minyak dunia atau WTI Crude Oil pada pekan depan akan berada pada kisaran US$87,60 per barel dengan resistensi hingga US$100,10 per barel.

Pengamat ekonomi, pasar mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan ada beberapa faktor yang dapat membuat harga minyak dunia berpeluang menembus US$100 per barel.

“Penyebabnya adalah pertama dari sisi faktor geopolitik, kemudian yang kedua dari sisi kebijakan perpolitikan di Amerika, yang ketiga adalah kebijakan Bank Sentral Amerika, kemudian yang keempat adalah permintaan untuk logam mulia pada saat harga emas mengalami penurunan,” kata Ibrahim kepada wartawan, Minggu, 27 September 2026.

Dia menjelaskan, kondisi geopolitik global kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak ajakan Presiden Iran untuk melakukan gencatan senjata dan membuka Selat Hormuz saat sidang PBB.

Pada saat itu, orang nomor satu di Amerika Serikat itu memberikan indikasi bahwa negaranya tidak akan membuka jalur Selat Hormuz di Laut Merah. Bahkan, Trump mengatakan usulan yang dilakukan oleh Iran merupakan kesalahan, karena Iran kalah telak dalam penguasaan wilayah di perairan Selat Hormuz.

Sementara itu, di Laut Merah, hubungan antara Yaman dan Arab Saudi juga semakin meruncing. Arab Saudi meminta bantuan kepada militer Turki dan Pakistan untuk membantu melancarkan serangan ke kelompok Houthi Yaman yang disebut-sebut berafiliasi dengan Iran.

“Nah, ini yang menarik bahwa sampai saat ini Houthi Yaman terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Arab Saudi. Sehingga apa? Sehingga mengganggu aliran minyak dari eksportir energi terbesar di Timur Tengah,” ujarnya.

Assuaibi mengatakan gangguan terhadap aliran minyak tersebut membuat harga kembali mengalami kenaikan.

Kemudian, di wilayah Eropa Timur, ada kemungkinan besar Rusia dan Ukraina melakukan pertemuan yang diprakarsai oleh Uni Emirat Arab sebagai tuan rumah. Perang yang berlangsung selama sekitar 4,5 tahun ini telah membuat ekonomi di Eropa Timur berantakan total.

“Bahkan produksi minyak di Rusia sendiri pun juga sedikit mengalami penurunan akibat serangan yang dilakukan oleh Ukraina berupa drone dan misil-misil jarak jauh ini membuat apa? Membuat kilang-kilang minyak di Rusia ini mengalami penghentian sementara,” ujarnya.

Penghentian sementara itu menyebabkan produksi minyak Rusia mengalami penurunan dan berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia.

Selain faktor geopolitik, kondisi politik Amerika Serikat juga menjadi penyebab harga minyak mengalami kenaikan. Ibrahim mengatakan survei terbaru mengungkapkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap Trump mengalami penurunan. Kondisi ini merugikan Partai Republik karena pada 3 November 2026 akan ada pemilihan anggota DPR.

“Untuk membuat Partai Republik itu mendapatkan suara terbanyak, Trump dengan Partai Republik mengotak-atik daerah pemilihan dan daftar pemilih di tengah ancaman kekalahan,” ujarnya.

Meskipun begitu, menjelang pemilu November 2026, banyak pihak terus melakukan riset dan jajak pendapat tentang individu yang akan memenangkan pemilu tersebut. Riset-riset itu juga mengarah kepada pemilih independen.

Hasilnya, para pemilih independen itu menunjukkan bahwa masyarakat semakin condong ke Partai Republik dalam pemilu pada November 2026.

“Jadi kalau kita lihat prosentasenya hampir 49% ya masyarakat independen itu akan memilih Partai Republik. Sedangkan 39% ya itu akan memilih condong ke Partai Republik. Nah ini yang kemungkinan besar dalam pemilu selera tersebut Partai Republik akan dikalahkan,” katanya.

Tidak hanya itu, kekalahan itu juga menimbulkan ketakutan besar akan ada pemakzulan terhadap Donald Trump.

Sementara itu, kenaikan harga minyak mentah dunia diperkirakan akan membuat inflasi cukup tinggi akibat harga bahan makanan pokok dan bensin terus ikut terkerek. Beberapa waktu lalu, Federal Reserve atau The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

“Nah, pada akhir-akhir September ini banyak pejabat-pejabat Bank Central Amerika yang memberikan testimoni ya tentang tingginya implasi akan menaikkan suku bunga 25 basis point pada Oktober,” ujarnya.

Ibrahim mengatakan hampir mayoritas pejabat The Fed menginginkan kenaikan suku bunga kembali pada Oktober 2026. Bahkan, jajak pendapat menunjukkan sudah 60 persen lebih bahwa kenaikan suku bunga akan terjadi pada bulan Oktober.

Dari segi permintaan bank sentral global, Ibrahim menilai bahwa turunnya harga emas dunia maupun harga logam mulia merupakan kesempatan bagi bank sentral global untuk kembali mendiversifikasi investasinya, dari dolar ke logam mulia.

Bank sentral akan diuntungkan dari selisih harga dengan harga logam mulia yang lebih murah. Sejumlah bank sentral yang telah melakukan pembelian seperti People’s Bank of China (PBoC) dan Narodowy Bank Polski.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *