IdeaFest 2026 Ajak Publik Kembali Menempatkan Manusia di Tengah Perkembangan AI

ActaIndonesia.com, JAKARTA—Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin memengaruhi cara manusia bekerja dan berkreasi menjadi sorotan IdeaFest 2026. Mengusung tema “Re:Humanize”, festival kreatif tersebut mengajak publik kembali mengeksplorasi peran manusia di tengah perkembangan teknologi.

Co-Chair IdeaFest Ben Soebiakto mengatakan tema “Re:Humanize” menjadi ajakan untuk melihat kembali hal-hal yang membuat manusia tetap penting ketika teknologi berkembang semakin cepat.

“Selama 15 tahun, IdeaFest telah mempertemukan lebih dari 2.500 pembicara nasional dan internasional melalui lebih dari 1.000 sesi, dan menjadi bagian dari perjalanan lebih dari 200.000 pengunjung. Tahun ini, melalui “Re:Humanize”, kami ingin mengajak publik melihat kembali apa yang membuat manusia tetap penting di tengah perkembangan AI dan bagaimana teknologi dapat memperluas potensi manusia tanpa kehilangan kreativitas, empati, dan makna,” ujar Ben.

Tema tersebut juga merupakan respons terhadap kebutuhan audiens IdeaFest. Berdasarkan evaluasi Populix terhadap IdeaFest 2025, audiens menunjukkan kebutuhan terhadap pembahasan yang lebih mendalam mengenai perkembangan industri kreatif, termasuk bagaimana manusia dan AI dapat bergerak bersama dalam satu sinergi.

Karena itu, IdeaFest 2026 mengembangkan percakapan mengenai hubungan manusia dan teknologi dengan perspektif yang lebih luas. Pembahasannya tidak hanya mencakup AI dan teknologi, tetapi juga kreativitas, bisnis, entertainment, budaya, komunitas, serta perubahan cara manusia bekerja dan menghasilkan karya.

Melalui lebih dari 160 sesi IdeaTalks, IdeaFest mempertemukan lebih dari 500 pembicara dari berbagai latar belakang. Sejumlah nama yang hadir antara lain Tom Lembong, Najwa Shihab, Tony Fernandes, Boon Ken Wong, Pandji Pragiwaksono, Kamila Andini, Dian Sastrowardoyo, Jovial da Lopez, Sherina Munaf, Veronica Utami, Agnes Rahajeng, Herald van der Linde, Vikram Sinha, dan Kavindra Airlangga.

Content Lead & BrainTrust IdeaFest Firdza Radiany mengatakan proses kurasi tahun ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana manusia dapat tetap menjadi pusat di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Dari perspektif industri teknologi, Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) turut mendukung IdeaFest 2026 melalui filosofi “Heartware Inside Hardware”. Filosofi tersebut menempatkan kemampuan manusia untuk menentukan arah dan menciptakan dampak sebagai bagian penting dari perkembangan teknologi.

SVP-Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Ovidia Nomia mengatakan AI dapat membantu masyarakat dan industri bekerja lebih cepat, tetapi manusia tetap memiliki peran dalam menentukan arah pemanfaatan teknologi.

“AI memberi kita kemampuan untuk melakukan lebih banyak hal dengan lebih cepat. Namun, manusialah yang tetap menentukan arah, tujuan, dan dampaknya. Kami percaya, ketika kemampuan teknologi berpadu dengan potensi manusia, lebih banyak kemungkinan dapat diwujudkan. Di situlah Indosat mengambil peran, membuka akses dan kesempatan agar teknologi dapat memberdayakan lebih banyak orang. Inilah semangat #LebihBaikIndosat,” ujar Ovidia.

Dari sisi industri kreatif, CEO and Co-Founder Smartick Indonesia Galih Sulistyaningra melihat AI sebagai alat yang dapat mempercepat proses kreatif dan membuka kemungkinan baru dalam eksplorasi ide. Namun, perspektif, pengalaman, emosi, intuisi, dan pemahaman manusia terhadap konteks tetap menjadi elemen penting dalam menghasilkan karya yang memiliki identitas dan makna.

Selain diskusi, semangat “Re:Humanize” diterjemahkan IdeaFest melalui berbagai pengalaman dan kolaborasi. Salah satunya IdeaFest Picks bersama JKTGo yang menghadirkan market bagi brand lokal, UMKM, dan pelaku kreatif.

Festival Director of IdeaFest Olivia Febrina mengatakan pengalaman langsung menjadi bagian penting dari upaya IdeaFest mempertemukan publik dengan berbagai ide dan karya.

“Kami ingin IdeaFest menjadi ruang yang tidak hanya memberikan inspirasi lewat diskusi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk mengalami, berinteraksi, dan menemukan sesuatu secara langsung. Karena sering kali, ide baru muncul dari pertemuan dan pengalaman yang tidak kita rencanakan,” ujar Olivia.

IdeaFest juga berkolaborasi dengan Collect Con untuk mempertemukan kreator, kolektor, komunitas, dan pelaku industri kreatif. Sementara melalui IdeaFest X, ESCAPE menghadirkan instalasi dan aktivitas interaktif yang mengajak pengunjung menjadi bagian dari pengalaman, bukan sekadar penonton.

Melalui rangkaian program tersebut, IdeaFest 2026 menempatkan manusia sebagai creator, thinker, collaborator, dan decision-maker di tengah perkembangan AI. Teknologi diposisikan sebagai enabler, sementara manusia tetap menjadi pihak yang menentukan arah, tujuan, serta makna dari inovasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *