Jejak Mumi 300 Tahun hingga Kopi Pegunungan, Pesona Wamena yang Siap Mendunia

ActaIndonesia.com, WAMENA—Di balik gugusan Pegunungan Jayawijaya, Wamena menyimpan cerita yang tak sekadar tentang bentang alam Papua.

Di sini, wisatawan dapat menyaksikan tradisi masyarakat adat yang masih hidup, memasuki rumah honai, menikmati prosesi bakar batu, hingga berdiri di hadapan mumi berusia lebih dari 300 tahun yang masih terawat oleh masyarakat setempat.

Pengalaman itulah yang dirasakan siapa pun saat mengunjungi Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan – termasuk Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.

Bagi orang nomor 2 di Kementerian Pariwisata itu, kunjungannya menjadi yang pertama ke Wamena – sekaligus membuka pandangannya mengenai besarnya potensi daerah itu sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia.

Perjalanan dimulai dari Desa Wisata Kumugima. Desa ini telah lama dikenal di kalangan wisatawan mancanegara karena menawarkan pengalaman hidup bersama masyarakat adat.

Wisatawan tidak hanya menyaksikan pertunjukan tari tradisional, tetapi juga dapat mengikuti tradisi memasak dengan metode bakar batu serta melihat langsung rumah adat honai yang hingga kini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Senang sekali ini pertama kalinya saya datang ke Wamena. Tadi melihat Desa Wisata Kumugima, kemudian dilanjutkan mengunjungi mumi di Aikima. Saya sangat senang bisa melihat langsung potensi wisata yang luar biasa di sini,” kata Ni Luh.

Dari Kumugima, perjalanan berlanjut ke Desa Aikima. Di desa yang dikelilingi pegunungan itu tersimpan salah satu warisan budaya paling unik di Indonesia, yakni mumi Kepala Suku Wirafak Elosak yang diperkirakan telah berusia lebih dari tiga abad.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, sebelum meninggal, Wirafak Elosak berpesan agar jasadnya diawetkan sehingga dapat dikenang oleh keturunannya sekaligus menjadi warisan budaya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Hingga kini, mumi tersebut tetap dirawat melalui tradisi masyarakat adat dan menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang dikenal wisatawan dari berbagai negara.

Ketertarikan wisatawan mancanegara terhadap Wamena bahkan terlihat saat Ni Luh bertemu rombongan wisatawan asal Italia.

Mereka mengaku sengaja memasukkan Wamena ke dalam rute perjalanan setelah mengunjungi Raja Ampat agar dapat menyaksikan Festival Budaya Lembah Baliem sekaligus menikmati kekayaan budaya Papua Pegunungan.

Bagi Ni Luh, cerita tersebut menunjukkan bahwa Wamena telah menjadi bagian dari perjalanan wisata Papua, terutama bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya yang autentik.

Namun, pesona Wamena tidak berhenti di sejarah dan tradisi. Di sudut lain daerah itu, kreativitas masyarakat hidup melalui anyaman noken khas Papua yang diproduksi para perajin lokal.

Ya, noken bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan bagian dari identitas budaya yang kini juga menjadi produk ekonomi kreatif yang mendukung sektor pariwisata.

Di Kumugima, potensi lain juga tumbuh dari sektor pertanian. Kebun nanas dan kopi Wamena yang telah lama dikenal memiliki cita rasa khas menjadi peluang untuk mengembangkan agrowisata.

Wisatawan tidak hanya menikmati panorama pegunungan, tetapi juga dapat mengenal proses budidaya hingga mencicipi hasil perkebunan masyarakat setempat.

Menurut Ni Luh, perpaduan antara wisata budaya dan agrowisata dapat memperkaya aktivitas wisatawan selama berada di Wamena sekaligus memperpanjang lama tinggal (length of stay).

Semakin banyak pengalaman yang dapat dinikmati wisatawan, kian besar pula manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.

“Masih banyak pekerjaan rumah yang bisa kita kerjakan bersama pemerintah daerah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperpanjang length of stay wisatawan yang datang ke sini,” ujarnya.

Dia menilai kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi kunci agar kekayaan budaya, sejarah, alam, serta potensi pertanian Wamena dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang utuh.

Dengan pendekatan tersebut, pariwisata tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan budaya Papua kepada dunia, tetapi juga menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang selama ini menjaga warisan leluhur mereka.

One thought on “Jejak Mumi 300 Tahun hingga Kopi Pegunungan, Pesona Wamena yang Siap Mendunia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *