
ActaIndonesia.com, JAKARTA—Kenaikan harga minyak dunia berpotensi menekan kondisi fiskal Indonesia, membuat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Rupiah tercatat melemah 55 poin setelah sempat mencapai minus 60 poin.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Indonesia, Ibrahim Assuaibi, mengatakan mata yang rupiah akan bergerak fluktuatif untuk perdagangan besok, Selasa, 27 Oktober 2026. Namun, cenderung melemah di rentang Rp.18.130 – Rp.18.180.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 55 point sebelumnya sempat melemah 60 point dilevel Rp.18.135 dari penutupan sebelumnya di level Rp.18.080,” katanya kepada wartawan, Senin, 26 Oktober 2026.
Dia menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi lantaran kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia mengalami peningkatan, seiring dengan kenaikan harga minyak.
Menurutnya, peningkatan harga minyak berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lantaran ada kenaikan biaya impor, beban subsidi, dan kompensasi kepada Pertamina.

Meskipun kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor minyak dan gas (Migas), manfaat tersebut berpotensi tidak cukup mengimbangi kenaikan belanja energi.
“Terutama apabila harga BBM domestik tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi. Dengan demikian, persistensi harga minyak yang tinggi dapat mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap pencapaian target defisit APBN,” ujarnya.
Ibrahim mengatakan, sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro menunjukkan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan depresiasi rupiah berpotensi memperlebar defisit anggaran.
Kenaikan yield SBN sebesar 0,1% dapat memperlebar defisit APBN sebesar Rp1,9 triliun. Sementara itu, depresiasi rupiah sebesar Rp100 per dolar AS berpotensi menambah defisit sebesar Rp800 miliar.
Tekanan terhadap fiskal juga berasal dari kenaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang memiliki sensitivitas terbesar terhadap defisit APBN. Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel berpotensi memperlebar defisit hingga Rp6,8 triliun.
Hingga akhir September 2026, realisasi ICP telah mencapai US$91,9 per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel.
Di sisi lain, depresiasi rupiah turut meningkatkan risiko kenaikan biaya impor energi. Tekanan tersebut tercermin dari belanja subsidi dan kompensasi yang mencapai Rp376,8 triliun hingga 30 September 2026, atau meningkat 54,1% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Sementara itu, dari sisi eksternal, indeks dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026.
Pergerakan pasar masih dipengaruhi perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi dengan Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi pada Sabtu.
Arab Saudi dilaporkan mencegat sejumlah rudal dan pesawat nirawak tambahan. Situasi keamanan di sekitar Laut Merah juga memburuk seiring pergerakan kelompok Houthi menuju Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Di tengah ketegangan tersebut, upaya diplomatik dilakukan untuk meredakan situasi regional. Mediator dari Qatar dilaporkan bertolak ke Teheran pada Minggu sebagai bagian dari upaya meredam ketegangan yang dikoordinasikan dengan Washington.
Ibrahim mengatakan, Reuters juga melaporkan bahwa pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dijadwalkan bertemu dengan pejabat Iran di Teheran pada Senin untuk membahas koordinasi regional.
Namun, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Fox News pada Minggu kembali memunculkan ketidakpastian mengenai arah hubungan Washington dan Teheran. Trump mengatakan sudah waktunya mengambil keputusan, apakah mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengakhiri proses tersebut sepenuhnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan melancarkan serangan lagi apabila rasionalitas dikedepankan.
Dari Amerika Serikat, pelaku pasar juga mencermati agenda ekonomi pekan ini, terutama pertemuan Federal Reserve (The Fed) yang dimulai pada Selasa. Keputusan kebijakan moneter dijadwalkan diumumkan pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia Barat (WIB).
Setelah keputusan tersebut, perhatian pasar akan tertuju pada rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti pada Kamis, yang menjadi salah satu indikator inflasi pilihan The Fed.


