
ActaIndonesia.com, JAKARTA — Setelah lebih dari dua dekade berkarya di industri musik Indonesia, MALIQ & D’Essentials mulai mengembangkan katalog lagu mereka menjadi kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang dapat hidup di berbagai medium.
Langkah tersebut ditandai dengan hadirnya Musikal Senja Teduh Pelita, pertunjukan teater musikal yang mengadaptasi sejumlah lagu grup tersebut ke dalam sebuah cerita futuristik tentang masa depan bumi dan perjuangan generasi muda.
Bagi MALIQ & D’Essentials, proyek ini bukan sekadar adaptasi lagu ke panggung teater, melainkan bagian dari upaya memperluas cara karya-karya mereka berinteraksi dengan publik. Lagu yang selama ini dikenal melalui album dan konser kini dikembangkan menjadi aset kreatif yang dapat melahirkan berbagai bentuk pengalaman baru.
Personel MALIQ & D’Essentials, Angga Puradiredja, mengatakan pihaknya tidak pernah membayangkan lagu-lagu yang telah menemani perjalanan pendengar selama lebih dari 20 tahun dapat berkembang menjadi sebuah pertunjukan musikal dengan cerita yang utuh.
“Musikal Senja Teduh Pelita menghadirkan perspektif baru terhadap karya-karya kami. Menyaksikan lagu-lagu yang selama ini hidup melalui rekaman dan panggung konser diterjemahkan ke dalam sebuah narasi yang utuh di atas panggung musikal merupakan pengalaman yang membahagiakan sekaligus membanggakan,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Angga, kolaborasi tersebut memberikan kesempatan bagi karya-karya MALIQ untuk menemukan makna baru di hadapan penonton. Lagu-lagu yang sebelumnya berdiri sendiri kini dirangkai menjadi bagian dari sebuah cerita yang saling terhubung.
Dalam pertunjukan yang diproduksi oleh Jakarta Movin itu, sebanyak 20 lagu MALIQ & D’Essentials diadaptasi menjadi elemen penting pembentuk cerita. Beberapa di antaranya adalah lagu “Senja Teduh Pelita”, Himalaya, Aurora, Jalan Pulang, hingga lagu-lagu dari album terbaru mereka, Begini Begitu.
Dia menilai pengembangan karya ke medium lain menjadi salah satu cara memperpanjang umur katalog musik sekaligus menjangkau audiens yang lebih luas. Jadi, Musikal Senja Teduh Pelita disebut sebagai langkah awal dalam membangun ekosistem IP kreatif yang berangkat dari lagu-lagu mereka.
“Musikal Senja Teduh Pelita menjadi salah satu langkah awal dari visi tersebut, yaitu mengembangkan IP kreatif yang berangkat dari lagu-lagu MALIQ dan dapat terus ditumbuhkan dalam beberapa tahun ke depan,” kata Angga.
Melalui kolaborasi dengan Jakarta Movin, MALIQ & D’Essentials berharap karya-karyanya dapat terus menemukan bentuk baru sekaligus menjangkau generasi pendengar berikutnya melalui medium yang berbeda dari konser maupun rekaman musik.
Dia menambahkan, Dengan sentuhan musikal yang hangat, visual futuristik, serta cerita yang relevan dengan isu global saat ini, Musikal Senja Teduh Pelita menjadi pertunjukan yang dapat dinikmati oleh seluruh keluarga – sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan bumi ada di tangan generasi hari ini.
Musikal Senja Teduh Pelita juga akan bekerja sama dengan lembaga pengelolaan sampah untuk juga menjadi aksi nyata menjaga bumi untuk masa depan.
Pada kesempatan yang sama, Program Manager Indonesia Kaya Billy Gamaliel, mengatakan bahwa Musikal Senja Teduh Pelita menghadirkan cerita yang unik dan relevan dengan tantangan masa depan.
Pertunjukan ini dikemas menjadi show yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi dan mengajak penonton melakukan refleksi. Dia mengatakan, adaptasi lagu-lagu MALIQ & D’Essentials yang sarat pesan tentang kehidupan, harapan, dan kemanusiaan mampu menghadirkan pengalaman yang dekat dengan berbagai generasi penonton.
Billy juga menyatakan dukungannya terhadap karya yang lahir dari kolektif seni pertunjukan yang secara konsisten membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat, belajar, dan berkarya.
Menurutnya, upaya tersebut penting untuk mendorong lebih banyak talenta muda berpartisipasi dalam dunia seni pertunjukan sehingga ekosistem seni pertunjukan Indonesia dapat terus tumbuh, berkelanjutan, dan melahirkan karya-karya berkualitas di masa depan.
Kisah Musikal Senja Teduh Pelita membawa penonton ke masa depan, ketika dunia porak-poranda akibat perubahan iklim, pengelolaan energi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan, pandemi, hingga peperangan antarbangsa.
Populasi manusia menurun drastis, tanah subur dan air bersih menjadi langka, hingga suatu hari seluruh orang dewasa menghilang dan meninggalkan anak-anak untuk menghadapi dunia yang telah mereka wariskan.
Di tengah situasi tersebut, seorang anak bernama Arah (Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar) membentuk Pasukan Pelita, kelompok yang terdiri dari sembilan anak dengan kemampuan berbeda.
Bersama Kala (Xandrea Abigail Tabythaputri dan Clioichi Junio Eigo) sang ahli sejarah dunia, Volta (Sahlendra Syarief) yang menguasai listrik dan mekanika, Lanit (Mavisha Reakana) sang pembaca bintang, Hara (Emily Olivia) ahli tumbuhan, Palu (Nayaka Maleakhi) yang mahir membangun, Raga (Nadindra Gynta) si pemanjat andal, Binbin (J. Rizhan) yang memahami hewan, dan Lagu (Annabella Farizky) yang peka terhadap musik dan suara, Arah memimpin sebuah perjalanan untuk mencari harapan baru bagi masa depan.
Nuya Susantono, Produser dan Sutradara Musikal Senja Teduh Pelita mengatakan, Arah adalah sosok yang tetap percaya terhadap kebaikan dan cinta, bahkan ketika dunia di sekelilingnya seolah sudah berhenti peduli.
Karakter Arah dan temannya Kala ini akan diperankan oleh dua orang dengan gender yang berbeda, yaitu versi laki-laki dan versi perempuan. Secara esensi, mereka menjalani perjalanan yang sama, tetapi masing-masing membawa getaran dan emosi yang berbeda.
“Kami memberi ruang bagi para pemain untuk menghadirkan warna mereka sendiri, sehingga penonton akan mendapatkan dua pengalaman yang unik dan penonton bisa merasakan dua sisi Arah dan Kala yang sama-sama kuat,” ujarnya.
Dia pun berharap, siapa saja yang menonton bisa menemukan dirinya dalam karakter ini, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa.



Ahhhh. Seru banget pasti ini. Gak sabar banget ini…