
ActaIndonesia.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Kamis (22/10/2026), dengan penurunan 38 poin ke level Rp18.060 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp18.022 per dolar AS. Rupiah sempat melemah 40 poin sebelum perdagangan ditutup.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Indonesia, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal dan internal, termasuk perkembangan geopolitik serta penilaian Fitch Ratings terhadap prospek ekonomi Indonesia.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.060–Rp18.110,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Kamis, 22 Oktober 2026.
Dari eksternal, indeks dolar AS melemah pada Kamis (22/10/2026). Perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu perhatian pasar setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang sejumlah target di Arab Saudi pada Rabu (21/10/2026).
Serangan di bandara sipil Dammam menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai delapan lainnya, sedangkan serangan pesawat nirawak di sebuah ladang minyak Arab Saudi menewaskan dua orang.

Pemerintah Amerika Serikat juga memerintahkan sejumlah diplomat beserta anggota keluarga mereka meninggalkan perwakilan AS di Arab Saudi. Sementara itu, pejabat Iran menyampaikan kesiapan negara tersebut untuk membela diri di tengah ketegangan dengan AS.
Perkembangan lainnya datang dari Rusia dan Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin menerima utusan khusus AS Steve Witkoff di St. Petersburg pada Rabu untuk membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina. Kremlin menyatakan Putin setuju melanjutkan perundingan damai yang dimediasi AS paling cepat bulan depan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan dukungannya terhadap rencana perundingan tersebut.
Di Amerika Serikat, penguatan bursa saham, terutama saham teknologi yang didorong antusiasme terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menjadi sentimen positif bagi pelaku pasar.
Perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan depan dan rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti atau Core Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Indeks.
Dari dalam negeri, Fitch Ratings menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah tetap kuat, tetapi diperkirakan belum mencapai target pemerintah sebesar 8%. Pada 2027, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, lebih tinggi daripada target tahun ini sebesar 5,4%.
Fitch juga menyoroti risiko peningkatan ketidakpastian kebijakan serta berkurangnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan di tengah pengambilan kebijakan yang semakin tersentralisasi. Penilaian tersebut berkaitan dengan keputusan Fitch pada Maret 2026 yang menurunkan prospek kredit Indonesia dari Stable menjadi Negative.
Fitch mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I/2026 mencapai 5,45% secara tahunan (year-on-year/YoY), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,1%. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tidak mencapai target pemerintah.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengkritik usulan MSCI untuk menghapus status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market) dan mengklasifikasikannya sebagai pasar tersendiri (standalone market). Prabowo juga membuka opsi penghematan anggaran yang lebih besar apabila diperlukan.
Untuk perdagangan sepanjang pekan ini, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850–Rp18.200 per dolar AS.


