
ActaIndonesia.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Senin (11/05/2026) seiring penguatan indeks dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik global. Rupiah ditutup melemah 32 poin ke level Rp17.414 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 45 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.382.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan terhadap rupiah terutama dipicu faktor eksternal, khususnya perkembangan terbaru konflik Amerika Serikat dan Iran.
Direktur PT Traze Andalan Futures itu menilai pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian Washington “sama sekali tidak dapat diterima” telah meningkatkan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut sekaligus meredam ekspektasi meredanya ketegangan dalam waktu dekat.
Proposal awal AS diketahui mencakup penghentian aktivitas pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan stok uranium yang sangat diperkaya, serta pembongkaran fasilitas nuklir utama, dengan imbalan pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.
Sebaliknya, Iran melalui mediator Pakistan mengajukan syarat pencabutan sanksi, jaminan keamanan, serta pengakuan hak untuk melanjutkan sebagian aktivitas nuklir. Investor juga masih mencermati potensi gangguan di Selat Hormuz yang dinilai krusial bagi jalur perdagangan energi global.

“Ketegangan geopolitik ini membuat pasar global tetap waspada, terutama terkait risiko gangguan pasokan energi,” ujar Ibrahim yang juga menjabat di sejumlah organisasi, termasuk Ikatan Alumni Universitas Ibnu Chaldun Jakarta dan Aspebtindo.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti sejumlah data ekonomi Amerika Serikat pekan ini, termasuk inflasi Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI), data penjualan ritel, serta pidato pejabat Federal Reserve yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga.
Dari sisi domestik, Survei Konsumen Bank Indonesia pada April 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di zona optimistis pada level 123,0, naik tipis dari 122,9 pada Maret 2026. Penguatan ini terutama ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) menjadi 116,5.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) masih berada di level optimistis 129,6, meski sedikit turun dari bulan sebelumnya sebesar 130,4. Hal ini menunjukkan keyakinan terhadap prospek ekonomi tetap positif, namun dengan tingkat optimisme yang lebih moderat.
Pada perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.410–Rp17.460 per dolar AS, seiring masih kuatnya tekanan eksternal.


